Galau diri

 

Ketika para penguasa mengujiku,

Apakah aku takluk kepada fakta ini?

Tentu saja, atau tidak sama sekali bagi yang menurutku anomali.

Kadang terlarut dalam sebuah konsekuensi awam, bahwa pengalaman masa silam berdampak panjang dalam penyiksaan ini, sementara begitu menakutkan.

Kenyataannya, aku lebih dikhawatirkan kepada ketetapan penguasa tunggal, yang sebab tunggalnya saja meniscayakan segala yang tak terkirakan. Ketetapan melahirkan ketetapan.

 

Jadi,

Suka tidak suka adalah lebih karena aku belum bisa menempuh dalamnya air.

Rela tidak relaku hanya karena belum kuat berjalan di atas bara api.

 

Inikah jeram ini?

Jeram yang dirancang khusus sesuai dengan bentuk diriku?

Jeram yang berhulukan sumur ketiadaan dan muaranya samudra ketiadaan?

Airnya menampar, arus melempar, dan bebatuan menyambut?

Yang sisi manis pengarungannya membolak-balikkan jati diri?

 

Si bodoh ini tetap tidak mengerti, hanya bersama si pendiam aku sangat memahami dan mengenali.

Aku nyaris tidak kuat, tapi aku harus kuat.

Insya Allah.

 

©(Sgu081020132138)

Mendayung Kalbu

 

Bertabuhlah hai gongku

Angin bukit kelam menderu rindu

Bertalulah oh gendangku

Ombak kapuas membelai syahdu.

 

Bersisirlah pantaiku

Pasir panjang puisikan damaimu

Berjogetlah pepohonan

Jeruk hamparkan janji ketegaran.

 

Mari mendayung kalbu

Bumi bersemi hanyalah titipan

Tudung saji senandung kasihmu

Hidup bersama gapai impian.

 

Melengkinglah seruling

Pancur aji merangkul beriring

Mengalir kasihmu pawan

Muara hidup di tangan Tuhan.

 

Melenting dawai jiwa

Danau luas janjikan pengharapan

Hirup udara satu rasa

Hembusan suci khatulistiwa.

 

Kita mendayung kalbu

Bumi terhampar hanya tata ruang

Saudara subur mendampingimu

Masa depan hadirkan cemerlang.

 

©(=============)