Kata-kata Emas dari Sufi Sheikh

Read more: Kata-kata Emas dari Sufi Sheikh  
Muhammad Raheem Bawa Muhaiyaddeen  

Hidup dengan keyakinan bahwa tubuh dan jiwa Anda bukan milik Anda. Kemudian Allah akan membagi penderitaan yang datang kepada Anda. Menempatkan kepercayaan Anda pada Tuhan sepanjang waktu; setiap saat mengatakan, "Ya Allah, ini adalah properti Anda, tugas Anda." Orang yang terlahir sebagai manusia dan telah hidup sebagai manusia akan eksis dalam kondisi ini. Untuk apapun yang terjadi dia akan mengatakan dengan kesenangan dan rasa syukur, "Segala puji milik Allah, al-hamdu lillah." Untuk apa yang mungkin datang di saat berikutnya, dia akan mengatakan, "Ini adalah tanggung jawab Anda, Ya Allah, Tawakkul-'alallah," dan memuji-Nya.

Hai manusia, tidak peduli apa yang telah Anda pelajari atau berapa banyak Anda telah mempelajarinya, janganlah mengikuti cara-cara pikiran Anda dengan keangkuhan dalam pembelajaran Anda. Tanyakan pada seorang arif bijaksana yang berada di jalan dan mengikuti petunjuk-Nya. Jika Anda tidak menemukan seorang arif bijaksana, baringkan hati Anda yang terbuka dan bertanya meskipun pada pohon atau dinding. Kuasa Allah di dalam hati yang disebut hati nurani Anda akan mengingatkan Anda dan membimbing Anda. Ia akan berkata, "Pergilah," atau "Jangan pergi," "Benar," atau "Salah." Jika hati Anda terbuka, hati nurani Anda akan memberikan buah yang bermanfaat yang akan menguntungkan perjalanan Anda melalui kehidupan.

Anda tidak harus menemukan kesalahan dengan salah satu ciptaan Tuhan. Anda harus menyadari bahwa pusatnya adalah yang di dalam diri Anda. Jika Anda membuka kearifan Anda, berdiri di tengah, dan menatap tajam pada diri sendiri, Anda akan memahami intinya. Jangan buang waktu Anda mencoba untuk menganalisis orang lain: jika Anda melihat orang lain dan mencoba untuk mencari tahu seperti apa mereka, segala sesuatu akan salah, karena setiap orang melihat kesalahan dirinya sendiri pada orang lain.

Di dalam hati Anda, di dalam sebuah ruang yang tidak lebih besar dari sebuah atom, Allah telah menempatkan 18.000 alam semesta, baik dan jahat, dan kearifan untuk membedakan antara keduanya. Itu adalah lahan pertanian Anda. Jika Anda membajak tanah yang mendalam dengan kebijaksanaan dan menabur kualitas dan tindakan Allah dengan pengetahuan tentang perbedaan antara baik dan jahat, Anda akan menerima kekayaan jiwa Anda, panen yang melimpah dari kasih karunia yang tak terbatas.

Anda harus menempatkan iman Anda pada yang tidak bisa dihancurkan, Allah yang abadi. Untuk melakukan ini, Anda harus berhenti bergantung pada raja, kekuatan, dan tentara dalam diri Anda. Ketika Anda menyerahkan semuanya dan berdiri tak berdaya dan sendirian, mengatakan, ya Allah, itu semua kehendak Anda! Sang Syekh akan berdiri di sisi Anda. Hanya ketika Anda menyerahkan diri kepada Allah bahwa syekh, yang merupakan kebijaksanaan untuk menjelaskan tentang Qutbiyyat yang memandu Anda pada jalan Allah, akan datang untuk mendampingi Anda. Dia akan mengatakan, 'Sekarang Anda siap. Ayo, mari kita pergi'.

Kata-kata Emas dari Sufi Sheikh (1980)

Spiritualitas Sufistik

Read more: Spiritualitas Sufistik  
   

Seseorang menghampiri gelandangan yang sedang menangis dalam kesedihan yang memilukan.

"Mengapa engkau menangis?"

"Aku menangis untuk menggugah belas kasihan Hati Tuhan."

"Ucapanmu salah."

"Engkaulah yang salah, karena Tuhan pemilik seluruh hati yang ada. Melalui hati manusia, aku dapat berhubungan dengan Tuhan."

Filsafat sufistik seringkali membuyarkan keajegan, membiaskan kebekuan sudut pandang, dan memendarkan warna cahaya. Sufi tidak sedang membangun surga untuk dirinya sendiri. Ia sedang berbagi kepada orang lain, tanpa pandang bulu. Tanpa melihat secara petak-petak kebenaran. Jadi, jangan lihat warna sufi hanya sebening cahaya putih saja, karena sesungguhnya ia sedang mengurai berbagai warna yang berbeda secara sama.

Janganlah hanya faham arti kata-kata yang tertulis dalam Al-Quran karena di balik yang tertulis terdapat arti yang tersembunyi, di balik arti lapis kedua ada lagi arti baru, yang menyilaukan fikiran dan pandangan.

Arti keempat, kecuali Nabi, tak ada yang pernah memahami kebesaran Tuhan, yang tiada tanding dalam Keghaiban. Hitunglah arti tersembunyi itu sampai tujuh kisah bermakna yang mengagumkan dari langit.

Wahai kawan, janganlah memandang jilid Al-Quran.

Bagi setan, manusia hanyalah sepotong daging.

Bagaikan manusialah Al-Quran itu, Bentuk lahir di luar dengan ruh diam-diam di dalamnya. (Jalaluddin Rumi)

Nasrudin Hoja sedang merenungi harmoni alam, dan keagungan Penciptanya.

Oh kasih yang agung.

Seluruh diriku terselimuti oleh-Mu.

Segala yang tampak oleh mataku.

Izinkan aku merasakannya tampak seperti wujud-Mu.

Seorang yang iseng menggodanya, "Bagaimana jika ada orang jelek dan dungu lewat di depan matamu?"

Nasrudin berbalik, menatapnya, dan menjawab dengan konsisten, "Tampak seperti wujudmu!"

Adakalanya membalikkan yang positif melalui cara negatif, yang sebetulnya tidak biasa. Nalar yang dibalik justru untuk dipikirkan. Ini membuat kita memandang sesuatu secara tidak hitam putih. Ada suatu makna yang bisa tak terhingga dijangkau pengindera manusia. Antara laku dan kata para sufi acapkali melampaui atau menyalahi kebiasaan, nonkonvensional, untuk memperoleh hikmah kearifan. Secara kasatmata kelihatan negatif, tapi banyak orang yang tidak menyadari hati positifnya. Model pemahaman seperti ini ampuh untuk melumpuhkan ketergesaan dan ketertutupan dalam beriman. Sufi bahkan tidak takut salah dalam menjalani kehidupan, karena di hatinya selalu memandang ”Tuhan”. Kematian pun bukan sebuah kekalahan, melainkan dunia baru menuju kemenangan. Para sufi membangun sendiri metode penjemputan menuju kematian dengan tidak menghiraukan surga dan neraka. Spiritualitas adalah kekayaannya, dan Tuhan merupakan khazanah yang tersembunyi untuk disingkap. Hidupnya sumringah penuh anekdot dan ketawa.

Karena itu, sufi sebetulnya amat peduli dan dekat dengan keseharian kita, keberadaannya tidak sejauh apa yang banyak dianggap selama ini. Bahwa ia berperan sebagai Semar. Keganjilannya dalam kekocakan menyuruk waskita, nubuat, untuk kita renungkan. Kadang, ia rela menjadi lilin yang meleleh untuk menerangi kita.

“Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh” (Q.S. Asy-Sy’araa: 83)

 

Pertama Yang Kedua

Read more: Pertama Yang KeduaKenziero Khalifateeh - Dalam kesyukuran penuh saya menyebutnya Pertama yang Kedua. Hal yang pertama adalah rujukan terhadap aspek-aspek fenomenal dan fitrah duniawi, sedangkan yang kedua merupakan jangkauan pengetahuan majati, yang pada keduanya melekat erat segenap keniscayaan (baca: Ketetapan) atas segala bentuk Berkah dan Kasih Sayang Allah SWT. Ada kehendak tak terbatas telah mendahului semuanya. Tersuguh dengan pasrah di hadapan kita seolah tanpa daya. Menunggu ajakan kita. Kemanapun kita membawa, niscaya dia akan mengikutinya. Apakah akan membiarkannya menjauh dari jati dirinya, atau membimbing ke arah majatinya, semua pilihan ada dalam pengetahuan kita.

Berikut Adalah Review subjektif saya.

Sebentuk jiwa putih bersih bayi telah terlahir ke dunia ini dengan membawa seluruh atributnya, entitas dalam eksistensi, secara sederhana saya namakan Kesempurnaan dan Keseimbangan Universal, Alhamdulillah... Kita sering menemukan perumpamaan populer 'selembar kertas putih' yang belum ditulisi baik oleh dirinya sendiri maupun oleh subjek terdekatnya. Kehadirannya yang baru berisi format dasar dan setup standar merupakan perangkat baru terdiri dari software mahakaya dan hardware mahakarya yang semestinya kita sadari sensitivitas penanganannya. Untuk mencapai peringkat ultimate, seperti yang akan dibahas berikut, dibutuhkan sentuhan cerdas penuh kreativitas, ketelitian, ulet dan sabar.

Kita berencana untuk mengkonfigurasi pertumbuhan awal pada basis kesehatan dan kekuatan, karena ini akan menjadi modal dasar dalam menempuh trek-trek sulit yang mungkin akan dilalui pada level berikutnya. Keputusan kita yang meniscayakan kondisi sebaliknya wajib dihindari. Bagaimanapun juga, di setiap etape membutuhkan persiapan dan antisipasi. Pada setiap tangga kehidupan membutuhkan perencanaan yang baik, selebihnya adalah upaya maksimal yang tentu saja hasil akhirnya tunduk pada kehendak dari Yang Maha Berkehendak.

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Saya yakin, kita berhak untuk membentuk dan mengkonfigurasi jiwa suci dalam rangka mempersiapkan antrean sebab logis bagi kebaikan masa depan. Tapi dengan catatan, pembentukan itu tidak boleh didasarkan pada egosentris semata. Akan lebih indah jika kita dapat mempersiapkan sebab yang semesta, terdiri dari sebab-sebab yang paling mendasar, bukan persoalan apakah kita sukai atau tidak. Dengan kalimat lain, kita tidak semata berpihak pada diri sendiri, melainkan berpihak pada sesuatu yang hakiki. Saya berharap ini adalah kalimat basi, yang berarti pandangan naif dan bodoh dari subjektifitas saya telah diterapkan orang banyak sejak lama. Atau sebaliknya, pandangan saya tidak berdampak buruk apapun bagi siapapun.

Rencana untuk menjadi terpelajar akan menjadi sulit diwujudkan tanpa setup dasar kesehatan dan kekuatan. Rangkaian berikutnya adalah memandang dengan penuh pengertian, pemaknaan, pemahaman secara terang benderang, dan orientasi wawasan seluas samudra, hanya lebih dimungkinkan melalui pencapaian tingkat pengalaman dan pembelajaran yang setara itu. Idealnya adalah, semua berjalan dalam level yang seimbang. Tapi jika dalam proses pembentukan lanjutan diketahui ada suatu disiplin muncul melebihi disiplin yang lain, saya akan memaklumi dan mengakuinya sebagai talenta, dan tentu saja tidak akan menutup kemungkinan terbaik bagi kemunculan sang multi talenta.

Talenta dasar pada setiap jiwa adalah kepemimpinan. Setidaknya adalah kepemimpinan bagi diri sendiri. Merupakan rahmat Allah Yang Maha Pengasih atas karuniaNya memberi kekuatan kepemimpinan bagi orang banyak. Tapi secara logis semua rangkaian itu bukanlah proses instan. Logika mengajarkan kita tidak ada yang gratis untuk setiap kelas pencapaian. Untuk setiap sebab selalu dibayar dengan akibat. Dalam bentuk apapun, antara lain yang lebih dikenal sepanjang peradaban manusia sebagai kebaikan dan keburukan. Meskipun hakekat dari setiap moment adalah sama baiknya, selalu merupakan jalur pengayaan dan sarana penyempurnaan kinerja perangkat lunak. Jalur akhirnya kita sebut kepemimpinan.

Pemimpin yang handal memiliki kekuatan pembuka/perintis/pioneer, dan penakluk. Sementara, Pemimpin yang bijaksana niscaya memiliki kekuatan berlaku adil, jujur, berjiwa lapang, bahagia, tulus, dan diberkati. Kekuatan menyingkirkan ego diri dengan segenap konsekuensi menanti, adalah keputusan cerdas dan berani, semua ditempuh dalam kesadaran dan keberpihakan pada yang sebenar-benarnya. Tidak ada kalimat anomali penuh kepalsuan, tanpa alasan, apalagi ambigu (karena riskan bagi kesenangan diri), melainkan dalam kesadaran murni untuk sebuah pertanggungjawaban. Ini adalah puncak rencana untuk apa setiap jiwa dipersiapkan. Dan untuk setiap rencana ada Yang Maha Berhak mengabulkannya. Hanya HidayahNya yang akan menyampaikan ke sana.

Teringat kata-kata bijak dari Albert Einstein, "Setiap orang bodoh yang cerdas bisa membuat hal-hal yang lebih besar, lebih kompleks, dan lebih hebat. Dibutuhkan sentuhan jenius - dan keberanian besar - untuk bergerak ke arah yang berlawanan."

Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami.