Kasyf Al-Mahjub Li Arbab Al-Qulub

Read more: Kasyf Al-Mahjub Li Arbab Al-Qulub  

Al-Hujwiri sebagaimana yang telah tersirat dalam buku Kasyf Al-mahjub li Arbab Al-qulub yang diterjemahkan dalam berbagai bahasa oleh para ilmuwan yang mengeluti ilmu tasawuf. Dalam versi inggris buku ini berjudul The kasf Al-mahjub: The oldest Persian Treatise on Sufism yang dikarang oleh 'Ali ibn 'Ustman Al-hujwiri sedangkan dalam versi indonesia berjudul Kasf Al-mahjub: risalah Tertua Tentang Tasawuf.

Arti secara bahasa yakni "Menyingkap tabir kegaiban atau hakikat orang-orang untuk memiliki penglihatan tajam atau agar orang memiliki penglihatan tajam sebagaimana para sufi".

Biografi Al-Hujwiri

Sekilas tentang biografi Al-hujwiri mempunyai nama lengkap Abul-hasan Ali bin Ustman bin Ali Al-gaznawi Al-jullabi Al-hujwiri. Dari semua literatur sangat sedikit yang mengulas tentang biografi Al-hujwiri kebanyakan literatur membahas konsep-konsep tasawuf beliau. Dalam perjalanan mencari ilmu Al-hujwiri pernah belajar kepada:

  1. Abul-fadhl muhammad bin Al-hasan Al-khutali (156 H),
  2. Abul-hasan Al-husri (lahir 371 H),
  3. Abul-Abbas Ahmad bin Muhammad Al-Asyqani atau Al-syaqani(158 H),
  4. Abul-Qasim Gurgani (159 H),
  5. Khwaja muzhaffar (160 H),
  6. Dan banyak lagi syaikh yang pernah dijumpainya dan diajak berbincang selama pengembaraannya.

Dalam pengembaraannya beliau berjalan dan berkeliling ke seluruh wilayah kerajaan islam dari kerajaan syiria hingga Tukistan dan dari Hindustan hingga laut kaspia. Diantara negeri-negeri tempat yang dikunjungi adalah Azerbaijan (63 dan 364 H), kuburan Bayazid di Bistham (72 H), damaskus, Ramla, dan Bayt Al-jin di syiria, thus dan Uzkan, kuburan Abu Sa'id bin Abul Khayr di Minha, merv, dan jabal Al-buttam di sebelah timur Samarkand. Dari salah satu penelusuran sejarah beliau pernah tinggal sementar di Irak, karena terimpit oleh utang-utang (informasi kurang jelas) dalam bukunya beberapa orang menyimpulkan bahwa Al-hujwiri pernah mengalami masa perkawinan singkat dan tidak menguntungkannya.

Menurut Riyadh Al-Awliya, Beliau pindah ke Lahore dan mengakhiri masa hidupnya di kota ini. Dalam perjalanannya di kota ini beliau merasa terpenjara dan sedih dalam mengarang buku Kasyf Al-mahjub karena kitab-kitabnya tertinggal di ghazna.

Diperkirakan beliau wafat pada tahun 456 H (1063-4 M) atau 464 H (1071-2 M), namun nyatanya beliau hidup sejaman dengan Abul-Qasim Al-qusyayri yang wafat pada tahun 465 H (1072 M).

Dalam mukadimah Kasyh Al-mahjub, Al-hujwiri sedikit mengulas tentang keluhannya bahwa dua karya awalnya telah disiarkan ke tengah khalayak ramai oleh orang-oarng yang telah menghapus namanya dari halaman judul, dan bermaksud agar mereka sendiri yang dianggap pengarangnya. Belajar dari pengalaman itu beliau banyak menampilkan nama-namanya pada setiap pembahasan dalam buku Kasyf Al-mahjub. Dalam karya-karyanya beliau sempat merujuk berbagai buku ;

  1. sebuah Diwam,
  2. Minhaj Al-din, tentang metode tasawuf, Karya ini berisi mengenai ulasan terinci Ahl-Al-suffah (83 H) dan riwayat Husayn bin Mansur Al-hallaj.
  3. Asrar Al-khiraq wa Al-ma'umat, tentang jubah bertambal yang dikenakan kaum sufi.
  4. Kitab-i fana u baqa', tentang kecongkakan dan kesembronoan pemuda.
  5. sebuah karya yang tidak disebutkan judulnya, tentang perkataan Husayn bin Mansur Al-hallaj.
  6. Kitab Al-bayan li Ahl Al-iyan, tentang persatuan dengan Allah.
  7. Bahr Al-qulub
  8. Al-ri'ayat li-huquq Allah, tentang tauhid Illahi.
  9. sebuah karya lagi yang tidak disebutkan judulnya, tentang iman (258 H).

Dalam ungkapannya tidak satu buku yang diatas dilestarikan.

Kasyf Al-mahjub li Arbab Al-qulub, ditulis beliau pada akhir masa hidupnya yang sebagiannya ditulis di Lahore. Sebagai jawaban juga atas pertanyaan-pertanyaan teman-temannya sekotanya, seperti Abu Sa'id Al-hujwiri.

Beliau adalah seorang sunni dan pengikut mazab hanafi akan tetapi beliau selalu bersikap kritis terhadap sesuatu hal yang beliau rasa mengganjal dan banyak kontroversi dalam perkembangan pada zaman itu. Seperti halnya dalam kasus Al-hallaj yang dhukum mati karena dituduh sebagai seorang tukang sihir, Al-hujwiri membela a-hallaj bahwa menyatakan ajaran Al-hallaj hanya berbau Wahdatul al-wujud dalam kulitnya saja. Tetapi Al-hujwiri memandang doktrin-doktrin Al-hallaj tidak benar.