Pertama Yang Kedua

b_150_100_16777215_00_images_Kenziero-2.jpgKenziero Khalifateeh - Dalam kesyukuran penuh saya menyebutnya Pertama yang Kedua. Hal yang pertama adalah rujukan terhadap aspek-aspek fenomenal dan fitrah duniawi, sedangkan yang kedua merupakan jangkauan pengetahuan majati, yang pada keduanya melekat erat segenap keniscayaan (baca: Ketetapan) atas segala bentuk Berkah dan Kasih Sayang Allah SWT. Ada kehendak tak terbatas telah mendahului semuanya. Tersuguh dengan pasrah di hadapan kita seolah tanpa daya. Menunggu ajakan kita. Kemanapun kita membawa, niscaya dia akan mengikutinya. Apakah akan membiarkannya menjauh dari jati dirinya, atau membimbing ke arah majatinya, semua pilihan ada dalam pengetahuan kita.

Berikut Adalah Review subjektif saya.

Sebentuk jiwa putih bersih bayi telah terlahir ke dunia ini dengan membawa seluruh atributnya, entitas dalam eksistensi, secara sederhana saya namakan Kesempurnaan dan Keseimbangan Universal, Alhamdulillah... Kita sering menemukan perumpamaan populer 'selembar kertas putih' yang belum ditulisi baik oleh dirinya sendiri maupun oleh subjek terdekatnya. Kehadirannya yang baru berisi format dasar dan setup standar merupakan perangkat baru terdiri dari software mahakaya dan hardware mahakarya yang semestinya kita sadari sensitivitas penanganannya. Untuk mencapai peringkat ultimate, seperti yang akan dibahas berikut, dibutuhkan sentuhan cerdas penuh kreativitas, ketelitian, ulet dan sabar.

Kita berencana untuk mengkonfigurasi pertumbuhan awal pada basis kesehatan dan kekuatan, karena ini akan menjadi modal dasar dalam menempuh trek-trek sulit yang mungkin akan dilalui pada level berikutnya. Keputusan kita yang meniscayakan kondisi sebaliknya wajib dihindari. Bagaimanapun juga, di setiap etape membutuhkan persiapan dan antisipasi. Pada setiap tangga kehidupan membutuhkan perencanaan yang baik, selebihnya adalah upaya maksimal yang tentu saja hasil akhirnya tunduk pada kehendak dari Yang Maha Berkehendak.

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Saya yakin, kita berhak untuk membentuk dan mengkonfigurasi jiwa suci dalam rangka mempersiapkan antrean sebab logis bagi kebaikan masa depan. Tapi dengan catatan, pembentukan itu tidak boleh didasarkan pada egosentris semata. Akan lebih indah jika kita dapat mempersiapkan sebab yang semesta, terdiri dari sebab-sebab yang paling mendasar, bukan persoalan apakah kita sukai atau tidak. Dengan kalimat lain, kita tidak semata berpihak pada diri sendiri, melainkan berpihak pada sesuatu yang hakiki. Saya berharap ini adalah kalimat basi, yang berarti pandangan naif dan bodoh dari subjektifitas saya telah diterapkan orang banyak sejak lama. Atau sebaliknya, pandangan saya tidak berdampak buruk apapun bagi siapapun.

Rencana untuk menjadi terpelajar akan menjadi sulit diwujudkan tanpa setup dasar kesehatan dan kekuatan. Rangkaian berikutnya adalah memandang dengan penuh pengertian, pemaknaan, pemahaman secara terang benderang, dan orientasi wawasan seluas samudra, hanya lebih dimungkinkan melalui pencapaian tingkat pengalaman dan pembelajaran yang setara itu. Idealnya adalah, semua berjalan dalam level yang seimbang. Tapi jika dalam proses pembentukan lanjutan diketahui ada suatu disiplin muncul melebihi disiplin yang lain, saya akan memaklumi dan mengakuinya sebagai talenta, dan tentu saja tidak akan menutup kemungkinan terbaik bagi kemunculan sang multi talenta.

Talenta dasar pada setiap jiwa adalah kepemimpinan. Setidaknya adalah kepemimpinan bagi diri sendiri. Merupakan rahmat Allah Yang Maha Pengasih atas karuniaNya memberi kekuatan kepemimpinan bagi orang banyak. Tapi secara logis semua rangkaian itu bukanlah proses instan. Logika mengajarkan kita tidak ada yang gratis untuk setiap kelas pencapaian. Untuk setiap sebab selalu dibayar dengan akibat. Dalam bentuk apapun, antara lain yang lebih dikenal sepanjang peradaban manusia sebagai kebaikan dan keburukan. Meskipun hakekat dari setiap moment adalah sama baiknya, selalu merupakan jalur pengayaan dan sarana penyempurnaan kinerja perangkat lunak. Jalur akhirnya kita sebut kepemimpinan.

Pemimpin yang handal memiliki kekuatan pembuka/perintis/pioneer, dan penakluk. Sementara, Pemimpin yang bijaksana niscaya memiliki kekuatan berlaku adil, jujur, berjiwa lapang, bahagia, tulus, dan diberkati. Kekuatan menyingkirkan ego diri dengan segenap konsekuensi menanti, adalah keputusan cerdas dan berani, semua ditempuh dalam kesadaran dan keberpihakan pada yang sebenar-benarnya. Tidak ada kalimat anomali penuh kepalsuan, tanpa alasan, apalagi ambigu (karena riskan bagi kesenangan diri), melainkan dalam kesadaran murni untuk sebuah pertanggungjawaban. Ini adalah puncak rencana untuk apa setiap jiwa dipersiapkan. Dan untuk setiap rencana ada Yang Maha Berhak mengabulkannya. Hanya HidayahNya yang akan menyampaikan ke sana.

Teringat kata-kata bijak dari Albert Einstein, "Setiap orang bodoh yang cerdas bisa membuat hal-hal yang lebih besar, lebih kompleks, dan lebih hebat. Dibutuhkan sentuhan jenius - dan keberanian besar - untuk bergerak ke arah yang berlawanan."

Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami.

 

Add comment


Security code
Refresh