Tasawuf di Mata Para Sufi

b_150_100_16777215_00_images_tasawuf2.jpg  

Dalam pembahasan ini Al-hujwiri mengunakan study komparatif, yakni mengambil ungkapan-ungkapan para tokoh sufi dan dianalisis sesuai dengan pemahamannya dan menjelaskannya secara komprehensif. Al-hujwiri melihat tasawuf yang merupakan dari doktrin-doktrin para sufi masih sulit dimengerti dan multi tafsir. Dalam definisi tasawuf sebagaimana dijelaskan diatas, Al-hujwiri menjelaskan tasawuf sebagai suatu tafsir yang benar.

Alhujwiri mengutip salah satu tokoh sufi yang mendiskripsikan tentang sufi. Dzun Nun Al-mirsi berkata : “Al-shufi idza nathaqa bana nuthuquhu ‘an al-haqa’iq wa-in sakata nathaqat ‘anhu al-jawarih bi-qath’ al-ala’iq” (sufi adalah yang bahasanya, ketika ia bicara adalah hakikat keadaannya yakni dia mengatakan pun yang tidak ada pada dirinya dan ketika ia berdiam diri sikapnya menunjukkan keadaanya dan keadaannya menyatakan bahwa dia telah memutuskan tali hubungan duniawi). Al-hujwiri menjelaskan yakni semua yang dia katakan berdasarkan prinsip yang benar dan semua yang dia lakukan adalah keterpisahan yang penuh dengan dunia. Ketika ia berbicara, pembicaraannya sepenuhnya tentang kebenaran dan ketika berdiam diri, tindakannya sepenuhnya kefakiran.

Junayd berpendapat bahwa tasawuf sebagai suatu sifat yang didalamnya terletak hidupnya manusia. Beliau menggambarkan itu sebagai sifat Tuhan atau sifat manusia. Esensi adalah sifat Tuhan dan sifat resmi adalah sifat manusia. Al-hujwiri mengulas ungkapan junayd bahwa esensinya melibatkan pelenyapan kualitas-kualitas manusia yang disebabkan oleh kekekalan kekekalan Illahi, dan inilah merupakan atribut Tuhan. Sedangkan sistem resminya yang melibatkan kesinambungan manusia dalam mujahadat dan kesinambungan dalam mujahadat ini adalah suatu atribut manusia.

Mudahnya, Tuhan memerintahkan hamba-Nya untuk berpuasa dan bilamana mereka melaksanakan puasa, dia diberi gelar “orang yang berpuasa (shaim)” kepada mereka, dan secara nominal puasa ini milik manusia, tapi sebenarnya puasa adalah milik Allah. Firman Allah “shawm li wa-ana ajzii bihi” yang artinya semua tindakan adalah milik-Nya dan bilamana semua manusia menisbahkan sesuatu pada dirinya mereka sendiri, penisbahan ini adalah resmi (formal) dan majazi (metaforis) bukan hakiki.

Dan Abul Hasan Nuri mengatakan bahwa tasawuf itu sebagai penyangkalan semua kesenangan diri sendiri. Dari penyangkalan dibagi atas dua macam, resmi dan hakiki. Singkatnya jika orang yang menyangkal suatu kesenangan dan mendapatkan kesenangan dalam penyangkalan, inilah yang dimaksud dengan penyangkalan resmi. Tetapi jika kesenangan menyangkal dia kemudian lenyap dan masalah ini ada dalam kontemplasi yang sesungguhnya (musyahadat). Maka dari itu penyangkalan itu merupakan tindakan manusia, tetapi pelenyapan kesenangan adalah tindakan Tuhan. Tindakan manusia adalah resmi dan tindakan Tuhan adalah hakiki.

Kesimpulan

Al-hujwiri melihat tasawuf sesuai dengan apa yang dia alami yang tidak lain adalah berdasarkan pengalamannya pribadi dalam mengarungi kehidupan. Dengan cara Al-hujwiri memahami tasawuf secara komparatif menjadikan tasawuf sesuatu yang bukan inklusif, artinya tidak ada suatu hal yang haq benar dalam tasawuf. Kebenaran dalam tasawuf merupakan wujud pengalaman spiritual pribadi.

Al-hujwiri tegas dalam mengeluarkan pandangannya seperti dalam kasus Al-halaj yang dituduh sebagai penyihir dan pandangan para sufi harus tetap tunduk pada hukum (syari’at). Menandakan bahwa Al-hujwiri sebagai sosok yang lantang bicara, berani aksi dan bertanggung jawab.

 

Comments   

Edwin
0 # Edwin 2018-11-05 18:29
I have noticed you don't monetize your website, don't waste your traffic,
you can earn additional bucks every month. You can use the best adsense alternative for any type of website (they approve all websites),
for more info simply search in gooogle: boorfe's tips
monetize your website

Also visit my site :: BestMarti: https://FollowArlene.blogspot.se
Reply | Reply with quote | Quote

Add comment


Security code
Refresh