Konsep Tasawuf

b_150_100_16777215_00_images_wayang1.jpg  

"Dan orang-orang yang berjalan diatas bumi dengan rendah hati, apabila disapa oleh orang-orang jahil mereka jawab dengan salam" (QS 25:63). Nabi bersabda "dia yang mendengar suara para sufi (ahl al-tashawwuf) dan tidak mengatakan amin bagi doa mereka, tercatat di hadapan Allah dalam daftar orang-orang yang lengah". Sebagian orang sufi menyatakan bahwa orang sufi disebut demikian karena dia memakai jubah bulu domba (jama'-i shuf) sedangkan sebagian lagi menyatakan karena mereka berada dalam barisan pertama (shaff-i awwal), yang lain juga menyatakan bahwa sufi termasuk dalam golongan ashhb-i shuffah.

Shafa (kesucian) adalah terpuji lawan dari kadar (ketidak sucian). Nabi bersabda "shafw (bagian yang suci yaitu yang terbaik) dari dunia ini telah lenyap dan hanya kadar yang tertinggal".

Di zaman tuhan telah mendindingi kebanyakan orang dari tasawuf dan dari abdi-abdinya dan telah menyembunyikan rahasia dari hati mereka. Karena itu sementara orang membayangkan bahwa ia merupakan bagian dari praktek ketakwaan lahiriah yang tidak disertai dengan tafakkur batin dan yang lain menyangka bahwa ia merupakan suatu bentuk dan sebuah sistem yang tidak memiliki hakikat dan akar. Sedemikian rupa sehingga mereka telah berpandangan seperti pandangan para pengejek (ahl-i hazl) dan para ahli ilmu kalam yang memandang dari aspek lahirnya dan sekaligus mengutuk tasawuf tanpa ada usaha untuk menemukan apa hakikat tentang itu.

Nabi saw bersabda "sesungguhnya, kesucian adalah ciri khas orang shiddiq, jika kau menginginkan atau mendambakan seorang sufi sejati". Bahwasannya kesucian memiliki akar dan cabang : akarnya adalah berupa keterpisahan hati dari yang lain dan cabangnya berupa kekosongan hati dari dunia yang memperdaya.

Seorang sufi terkemuka berkata : "Dhiya al-syams wa'l-qamar idza 'isytaraka namudzaj min shafa al-hubb wa al-tawhid idza 'isytabaka" (paduan cahaya matahari dan bulan seperti kesucian cinta dan pengesaan Illahi (tauhid) ketika mereka membaur bersama-sama). Mata tak dapat melihat cahaya matahari dan bulan dalam tampilan yang sempurna. Selama ada pengaruh dari sinar matahari, mata senantiasa melihat langit sedang hati melihat singgasana Illahi dan selagi masih hidup di dunia ini senantiasa menjelajahi alam mendatang (akhirat). Dan apabila seseorang telah terlepas dari maqam-maqam dan meretaskan belenggu kadar "keadaan-keadaan (ahwal)" dan terbebaskan dari dunia perubahan serta kebinasaan dan memiliki semua sifat yang terpuji maka dia terlepas dari semua sifat.

"Man shaffahu al-hubb fa-huwa shaf wa-man shaffahu al-habib fa-huwashufiyy"(ia yang telah disucikan oleh cinta adalah suci dan ia yang tenggelam dalam kekasih dan telah mencampakkan segala yang lain adalah seorang sufi) uangkapan dari salah satu sufi. Sebenarnya penamaan sufi diberikan hanya untuk para wali dan ahli keruhanian yang sempurna. Penggunaan nama sufi yang memenuhi keperluan etimologi karena tasawuf terlalu luhur untuk memiliki genus yang darimya tasawuf berasal karena pengasalan satu hal dari yang lain membutuhkan homogenitas, sehingga penamaan itu tidak mempunyai sebuah derivasi.

Arti secara etimologi shafa (kesucian), adalah suatu kewalian dengan sebuah tanda dan suatu pemberitaan (riwayat). Sedang tasawuf adalah suatu peniruan yang sabar akan kesucian. Maka dipahami kesucian merupakan sebuah gagasan yang cemerlang dan nyata sedang tasawuf merupakan peniru dari gagasan.

Dalam tingkatan sufi Hujwiri membagi Shafa dalam tiga derajat :

  1. Shufi, seseorang yang manunggal (shabib wushul). Yang mati pada dirinya dan hidup oleh kebenaran, ia bebas dari batas-batas kemampuan manusiawi dan benar-benar telah sampai.
  2. Muthasawwif, seseorang yang berpegang pada prinsip (shabib ushul). Ia telah berusaha keras untuk mencapi derajat ini dengan menundukkan hawa nafsu dan dalam pencariannya ia meluruskan perilakunya sesuai dengan teladan mereka (para sufi).
  3. Mutashwif, seseorang yang suka berbuat sia-sia (shabib fudhul). Ia yang membuat dirinya secara lahirnya serupa mereka (para sufi) untuk sekedar mencari uang, kekayaan, kekuasaan, serta keuntungan duniawi, tapi tidak sedikit mengetahui tentang kedua ini. Karena itu dikatakan "al-mustashwif 'inda al-shufiyyat ka al-dzubab wa 'inda ghayrihim ka al-dzi'ab" (Mutashwif, dalam pandangan para sufi sehina lalat-lalat dan kelakuannya berdasarkan ketamakan semata-mata, orang lain menganggap selayak serigala dan mulutnya tak terkendali (be afsar) karena ia hanya menginginkan secuil bangkai)

 

Add comment


Security code
Refresh