Cinta

b_150_100_16777215_00_images_cinta.jpg  
   

Aku mencintaiMu dengan dua macam cinta

Cinta karena diriku dan cinta karena diriMu

Cinta karena diriku adalah keadaan senantiasa mengingatMu

Cinta karena diriMu adalah keadaanMu

Menyingkapkan tabir hingga Engkau ku lihat

Baik untuk ini dan baik untuk itu

Pujian bukanlah untukku

bagiMu segala pujian

(Rabiatul Al Adawiyah)

 Al-Hujwiri, salah seorang ulama tasawwuf, dalam kitabnya Kasyful Mahjub, Menjelaskan beberapa istilah cinta dari berbagai kata dalam bahasa arab. 

Mahabbat (cinta) dikatakan berasal dari Hibbat, yang berarti benih-benih yang jatuh ke bumi di tengah gurun. Nama Hubb (cinta) diberikan kepada benih-benih gurun tersebut (hibb), oleh karena cinta merupakan sumber dari pada kehidupan yang adil sebagaimana benih yang merupakan asal tanam-tanaman. Seperti halnya jika benih-benih itu ditebarkan di gurun, mereka lantas terpendam di bumi dan hujan jatuh di atasnya dan matahari menyinarinya dan panas serta dingin lewat atasnya, namun benih-benih itu tak terpengaruh oleh perubahan musim, namun tumbuh dan memunculkan bunga-bungan dan memberi buah, begitulah cinta. Bila ia memilih tempat kediamannya dalam hati, tak terganggu oleh kehadiran dan ketakhadiran, oleh suka atau duka, oleh perpisahan atau persatuan.

Ada juga yang mengatakan Mahabbat berasal dari Hubb, yang berarti “sebuah kendi yang penuh genangan air”, oleh karena bilamana cinta terkumpul dalam hati dan memenuhinya, tak ada lagi ruang bagi pikiran kecuali sang kekasih, sebagaimana Imam Shibli mengatakan: “Cinta disebut mahabbat oleh karena ia menghapus dari segala hal selain kekasih.”

Ada lagi yang mengatakan Mahabbat berasal dari kata Hubb yang berarti “empat keping kayu di atas kendi air diletakkannya”, oleh karena seorang pecinta merasa ringan membawa apa saja yang ditimpakan oleh kekasihnya kepadanya, pujian atau hinaan, duka ataupun lara, baik ataupun jelek.

Ada juga yang mengasalkan dari habab, “air yang mendidih dan semangat yang melonjak”,, oleh karena itu cinta adalah semangat hati dalam merindukan persatuan dengan kekasih. Apabila tubuh mendapatkan hidup dari ruh, maka begitulah hati memperoleh hidup dari cinta, dan cinta memperoleh hidup dari penglihatan batin dan persatuan dengan kekasih. 

Yang lain lagi menyatakan bahwa hubb dipakai untuk cinta murni, oleh karena orang-orang arab menyebut kemurnian mata manusia dengan Habbatulinsaan, sama seperti menyebut kelamnya kalbu yang murni, habbatul qalbi yang kemudian adalah tempat diam cinta, yang sebelumnya penglihatan batin. di sini hati dan mata saling berlomba dalam cinta.

Hatiku telah mampu menerima aneka bentuk dan rupa;

ia merupakan padang rumput bagi menjangan,

biara bagi para rahib, kuil anjungan berhala,

ka`bah tempat orang bertawaf,

batu tulis untuk Taurat,

dan mushaf bagi al-Qur’an.

Agamaku adalah agama cinta,

yang senantiasa kuikuti ke mana pun langkahnya;

itulah agama dan keimananku.

(Ibnu Arabi 1165-1240 M----Tarjuman al-Ashwaq)

 

Add comment


Security code
Refresh