Guru Sejati dan Muridnya

b_150_100_16777215_00_images_wayang.jpg  
   

Sayangku, cucu-cucuku, anak-anakku, saudara-saudaraku semua, laki-laki dan perempuan.

Semoga Allah, yang kepada-Nya kita semua memuja, dan yang memang hanya milik-Nyalah segala puja dan puji, akan menunjukkan kita jalan menuju sebuah kehidupan yang murni. Semoga Dia berikan khazanah tentang Kebenaran dalam kehidupan kita. Semoga Dia tunjukkan kepada kita tanda-tanda yang menjadi bukti persaksian akan terbangunnya hubungan kita dengan-Nya, juga tanda akan kebersamaan kita satu sama lain, dan semoga Dia menolong kita mencapai tingkatan itu dalam kehidupan kita. Amin.

Anak-anakku, apakah yang menyebabkan kita berkumpul di sini bersama-sama?

Salah satu alasannya ialah cinta. Alasan yang lain, adalah untuk mengetahui cara menemukan kedamaian dalam hati kita, pada sebuah titik di antara kelahiran dan kematian, untuk mendapatkan sebuah keterhubungan antara Tuhan dan manusia yang memungkinkan kita mengakhiri segala penderitaan dalam kehidupan ini. Itulah alasan-alasan kita berkumpul di sini sekarang. Kita semua berkumpul di sini karena selama ini kita berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, mencari seseorang yang telah memahami Kebenaran yang sejati. Kita mencari sambil membawa harapan bahwa jika kita menemukan manusia yang seperti itu, kita bisa memahami hubungan antara kita dengan Tuhan. Sebagian akan mencintai manusia bijaksana ini sebagai ayahnya. Sebagian lagi akan mencintainya sebagai kakeknya. Buat sebagian yang lain, hubungan dengannya adalah seperti hubungan dengan saudara kandungnya, anaknya, atau cucunya. Beberapa orang mungkin memanggilnya syaikh, yang lain mungkin memanggilnya guru.

Mereka mungkin memanggilnya dengan bermacam-macam sebutan. Akan tetapi, apa pun panggilan mereka padanya, mereka semua berkumpul dalam suatu kecintaan dan kebersatuan. Bagi sang ayah, hanya ada satu makna. Walaupun anak-anaknya tua ataupun muda, mereka semuanya adalah anak-anaknya. Dia akan memanggil mereka sebagai ‘anak-anakku’. Dari mana kata-kata ini muncul? Kata-kata ini datang dari hatinya. Dia melahirkan anak-anaknya ini dari hatinya. Mereka tidak akan pernah terpisahkan darinya. Mereka adalah bagian dari cintanya, dari karakter dasarnya, dari rasa kasih sayangnya. Tidak ada keterpisahan antara seorang ayah dengan anak-anaknya. Dia tidak akan membeda-bedakan antara satu dan yang lainnya. Dia mengajarkan pada mereka semua Kebenaran Sejati, sesuai dengan karakter, perilaku, tindakan maupun kematangan masing-masing. Sang ayah akan memberi mereka makanan dan perlindungan yang mereka butuhkan.

Anak-anak, jangan pernah kalian berpikir bahwa kalian diperlakukan berbeda dengan yang lain. Jangan menjadikan kebutuhan kalian yang berbeda-beda, menjadi perbedaan di antara kalian. Hanya seseorang yang telah memahami Kebenaranlah yang mampu mengukur kebutuhan dari masing-masing anaknya. Karena kalian belum memahaminya, kalian tidak bisa mengukur seberapa dalam kebutuhan seseorang. Pikirkanlah hal ini. Kalian tidak boleh membiarkan keragu-raguan berlabuh, dengan berpikir bahwa ayah memberikan makanan berlebih pada seorang anak atau memberikan Pengetahuan Kebenaran berlebih pada anak yang lain. Jangan pernah berpikir seperti itu.!!!

Jangan pemah menyimpan keragu-raguan seperti itu dalam diri kalian. Keragu-raguan akan membunuh kebenaran, cinta, keyakinan, kasih sayang, dan kebersamaan yang ada pada kalian. Kebodohan mudah saja dihalau oleh kebenaran, tapi keragu-raguan amatlah sulit untuk disingkirkan. Sangatlah mudah bagi cahaya bulan menyingkirkan kegelapan, akan tetapi ketika bulan tertutup oleh awan, amatlah sulit bagi cahayanya untuk menembus. Bahkan cahaya matahari pun akan sulit untuk menembusnya.

Sebenarnya, keragu-raguan adalah seperti awan-awan itu. Sulit bagi cahaya kebenaran untuk menembusnya. Akan tetapi ketika awan tidak ada, barulah cahayanya dapat menyinari secara langsung.

("Guru Sejati dan Muridnya” karya M.R. Bawa Muhaiyyadeen)

 

Add comment


Security code
Refresh